Perubahan Budaya Nongkrong Remaja Akibat Penggunaan Media Sosial di Desa Pojokrejo Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang
Abstract
Penelitian ini mengkaji perubahan budaya nongkrong remaja akibat penggunaan media sosial di Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan teori perubahan sosial dari William F. Ogburn, Anthony Giddens, dan Selo Soemardjan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan teknologi informasi dan masifnya penggunaan media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok telah mentransformasi pola interaksi serta gaya hidup remaja pedesaan. Aktivitas nongkrong yang sebelumnya didominasi oleh komunikasi tatap muka, diskusi langsung, dan penguatan solidaritas kini bergeser menjadi aktivitas hibrida. Remaja tetap berkumpul di ruang publik seperti warung kopi atau pos ronda, namun perhatian mereka terpecah ke layar telepon pintar untuk membuat konten, bermain gim, maupun mengakses media sosial. Perubahan ini memicu kesenjangan budaya atau cultural lag serta melekatnya karakteristik masyarakat modern yang melepaskan interaksi sosial dari batasan ruang dan waktu (disembedding). Meskipun media sosial mempermudah komunikasi dan memperluas jaringan pertemanan, penggunaannya secara berlebihan berpotensi menurunkan kualitas komunikasi interpersonal, meningkatkan individualisme, serta mengikis kehangatan interaksi sosial tradisional di lingkungan masyarakat pedesaan

