Dominasi Simbolik Dalam Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu: Studi Kasus Di Desa Kedungbetik Kabupaten Jombang

Authors

  • Ahmad Harun Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,Universitas Darul Ulum Jombang, Indonesia
  • Abu Tazid Program Studi Sosiologi, Universitas Darul Ulum Jombang, Jawa Timur, Indonesia
  • Khudrotun Nafisah Program Studi Sosiologi, Universitas Darul Ulum Jombang, Jawa Timur, Indonesia

Keywords:

KDAW; dominasi simbolik; Pierre Bourdieu; Musyawarah Desa; modal sosial; demokrasi desa.

Abstract

Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu (KDAW) merupakan mekanisme pengisian jabatan kepala desa yang berhenti sebelum masa jabatannya berakhir. Berbeda dengan pemilihan kepala desa reguler yang melibatkan pemilih secara lebih luas, KDAW dilaksanakan melalui mekanisme keterwakilan dalam Musyawarah Desa. Kondisi tersebut secara kelembagaan ditujukan untuk menjamin kesinambungan pemerintahan desa, tetapi sekaligus membuka ruang bagi konsentrasi pengaruh pada aktor-aktor yang memiliki modal sosial, budaya, dan simbolik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan KDAW di Desa Kedungbetik, mengidentifikasi bentuk dominasi simbolik dalam proses pemilihan, serta menjelaskan bagaimana dominasi tersebut memperoleh penerimaan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam terhadap delapan informan, dan dokumentasi. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis menggunakan perspektif dominasi simbolik Pierre Bourdieu, khususnya konsep habitus, arena, modal, kekuasaan simbolik, dan kekerasan simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara prosedural KDAW berlangsung tertib dan menghasilkan kepemimpinan yang sah secara formal. Namun, pada tingkat substantif, arena Musyawarah Desa menunjukkan adanya pengondisian informal sebelum forum resmi berlangsung. Penentuan pemilih perwakilan, jaringan sosial, pengalaman birokrasi, status keagamaan, serta narasi “guyub rukun” dan “restu sesepuh” berperan dalam membentuk preferensi politik. Dominasi tersebut bekerja bukan terutama melalui paksaan terbuka, melainkan melalui mekanisme simbolik yang membuat kepatuhan dipersepsikan sebagai tindakan yang wajar dan demi kepentingan bersama. Penelitian menyimpulkan bahwa legitimasi formal hasil KDAW perlu dibedakan dari legitimasi substantif yang ditentukan oleh keterbukaan deliberasi dan otonomi pilihan pemilih.

Downloads

Published

2026-08-27

How to Cite

Ahmad Harun, Abu Tazid, & Khudrotun Nafisah. (2026). Dominasi Simbolik Dalam Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu: Studi Kasus Di Desa Kedungbetik Kabupaten Jombang. Dromologi : Journal of Sociology and Humanities, 3(1), 1–16. Retrieved from https://ejournal.undar.or.id/index.php/dromo/article/view/1874

Issue

Section

Articles

Categories