Negosiasi Identitas Dalam Praktik Bermedia Sosial Persepektif Simulakra Jean Baudrillard

Authors

  • Luluk Muhaziroh Program Studi Sosiologi, Universitas Darul Ulum Jombang, Jawa Timur, Indonesia
  • Khudrotun Nafisah Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Darul Ulum Jombang, Indonesia
  • Mukari Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Darul Ulum Jombang, Indonesia

Keywords:

negosiasi identitas gender, media sosial, netnografi, simulakra, budaya pesantren

Abstract

Media sosial telah menjadi ruang publik virtual bagi perempuan, khususnya mahasiswi, untuk membentuk dan menegosiasikan identitas diri. Tingginya angka pengguna media sosial di Indonesia menghadirkan fenomena menarik terkait perbedaan pemanfaatannya berdasarkan gender, termasuk pada mahasiswi Universitas Darul Ulum (UNDAR) yang berlatar belakang nilai-nilai keislaman dan budaya pesantren. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan proses negosiasi identitas gender mahasiswi UNDAR dalam praktik bermedia sosial di ruang digital, menganalisis peran nilai keislaman dan budaya pesantren dalam membentuk negosiasi tersebut, serta mendeskripsikan strategi mahasiswi dalam mengonstruksi dan mengelola citra diri (self-presentation) di ruang digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan netnografi (netnography), melibatkan sepuluh informan mahasiswi aktif UNDAR yang dipilih secara purposive berdasarkan keaktifan bermedia sosial di Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Data dikumpulkan melalui observasi berpartisipasi, wawancara semi terstruktur, dan penelusuran data arsip digital, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman serta menggunakan teori simulakra dan hiperrealitas Jean Baudrillard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi identitas gender berlangsung secara aktif, sadar, dan berlapis, tercermin dari pemisahan akun utama dan second account, perbedaan gaya presentasi diri pada setiap platform, serta pengaruh komunitas virtual dan umpan balik audiens. Secara umum, mahasiswi UNDAR berada pada fase kedua simulakra Baudrillard, yakni tahap ketika realitas dimanipulasi secara sengaja melalui kurasi konten, visual, dan gaya busana, dengan sebagian kasus mendekati fase ketiga. Nilai keislaman dan budaya pesantren berfungsi sebagai semacam sensor internal yang membentuk negosiasi identitas, paling nyata tampak pada gaya hijab sebagai simulakrum ganda antara penanda religiusitas dan penanda estetika modern. Strategi pengelolaan citra diri yang ditemukan meliputi pemilihan visual berbasis estetika, seleksi konten berbasis nilai, manajemen privasi, dan pengelolaan reputasi sosial, yang dijalankan mahasiswi untuk menghadapi tegangan antara ekspresi bebas dan identitas keislaman yang mereka yakini.

Downloads

Published

2026-08-27

How to Cite

Muhaziroh, L., Khudrotun Nafisah, & Mukari. (2026). Negosiasi Identitas Dalam Praktik Bermedia Sosial Persepektif Simulakra Jean Baudrillard. Dromologi : Journal of Sociology and Humanities, 3(1), 72–90. Retrieved from https://ejournal.undar.or.id/index.php/dromo/article/view/1891

Issue

Section

Articles